Sensor torsi dibagi menjadi sensor torsi statis (putaran tidak boleh melebihi 360 derajat) dan sensor torsi dinamis. Torsi statis dapat diukur pada kedua jenis sensor, baik statis maupun dinamis. Sensor torsi statis biasanya dipilih karena pertimbangan biaya. Namun, jika Anda ingin mengukur torsi saat peralatan bekerja secara dinamis, maka hanya sensor torsi dinamis yang dapat digunakan. Hefei Natural Intelligent Technology Co., Ltd. mengkhususkan diri dalam memproduksi berbagai jenis sensor torsi dan dapat menyediakan solusi yang tepat untuk pengukuran torsi.
Pemilihan Rentang Sensor Torsi
-
Jika torsi yang diukur bersifat statis, rentang sensor yang dipilih sebaiknya sama dengan beban maksimum peralatan.
-
Jika mengukur torsi dinamis (kecepatan tidak dikontrol oleh sumber daya), sebaiknya pilih dua kali beban torsi maksimum dari perangkat Anda. Hal ini karena saat startup, perangkat dapat menghasilkan torsi instan yang besar, dan rentang sensor yang terlalu kecil dapat merusak sensor.
-
Jika kecepatan sumber daya dikontrol menggunakan frequency converter, pilih sensor torsi dengan rentang lebih besar dari torsi beban maksimum peralatan.
Jenis Sensor Torsi: Kontak dan Non-Kontak
-
Sensor Torsi Kontak
-
Menggunakan torsion bar yang dipasang antara steering shaft dan steering pinion.
-
Saat sistem bekerja, deformasi torsion bar diukur menggunakan slip ring dan potentiometer, lalu dikonversi menjadi sinyal tegangan.
-
-
Sensor Torsi Non-Kontak
-
Juga dikenal sebagai sliding variable resistance torque sensor.
-
Terdapat dua pasang cincin kutub magnet. Saat terjadi rotasi relatif antara input shaft dan output shaft, celah udara di antara cincin kutub magnet berubah, mengubah koefisien induksi elektromagnetik, menghasilkan tegangan induksi di kumparan, yang kemudian dikonversi menjadi sinyal torsi.
-
Keunggulan: ukuran kecil dan akurasi tinggi.
-
